Posts

Showing posts with the label cermin

Kereta Api yang lain

Saat perjalanan justru adalah yang terburuk. Banyak dari kita melumpuhkan kewaspadaan, mencoba mencari posisi terenak untuk tidur sekejap. Biasanya, bayangan akan pindah kereta muncul. Bukan kereta yang benar atau kereta yang salah. Kereta yang lain: Kereta Istimewa. Selain bosan, Kereta Istimewa begitu memikat untuk para penumpang yang muak. Terlalu lama menunggu, terlalu lama sendiri (aih..) dan tidak ada siapapun yang menanti di stasiun tujuan. Begitu banyak yang depresi dan menenggelamkan diri di dalamnya. Sesuatu yang disangka akan begitu-begitu saja, ternyata menjadi musuh terbesar si penumpang.  Lalu, apa sih Kereta Istimewa itu? Sebuah pemandangan seperti padang rumput hijau, dimana kita bisa menjadi tokoh yang sama sekali berbeda dari latar belakang kita. "Tiba-tiba lompat" ke buku cerita yang berbeda, dimana kita bisa jadi orang yang baru, tanpa menyelesaikan apapun yang masih tertinggal di kereta awal. Ya. Kereta Istimewa adalah kesempatan langka diman...

Cacing yang Tidak Bisa Diam

(Sebuah postingan yang sudah terlalu lama disimpan, dan baru saja ditemukan kembali...) Anak anda cacingan? Eh.. “Anak anda tidak bisa diam? Mungkin gaya belajarnya kinestetik!” Kalimat tersebut sempat terbaca waktu gue melihat-lihat postingan Facebook . Sepintas langsung muncul di otak: “wah gue nih!” Bukan karena makna dibalik kinestetik itu sih, tapi karena gambar yang digunakan adalah dua anak kecil yang sedang memanjat pagar. Yah, dulu sih emang gue suka coba-coba panjat pagar, cuma karena seru aja sih, bukan karena dikunciin atau apa. #pemahamanpribadi Tapi kemudian keahlian gue pun terjadi. Yap, perenungan tingkat semesta terjadi. Gue tahu gue emang orang yang ga bisa diam. Gue sering mencoba hal-hal baru dan bahkan belajar banyak hal. Mulai dari musik, nari, nyanyi, bahkan sempat nulis beberapa lagu. Belum lagi puisi, blogging, dan kadang mendesain kartu ucapan kecil-kecilan untuk keluarga dan sahabat. Waktu kuliah, gue memberanikan coba bidang jurnalistik, dis...

Jadi Baik (sedikit).

Berbuat baiklah kepada semua orang. Terlalu banyak kita mendengar kata-kata itu, sehingga kita sendiri melupakan orang-orang yang terdekat dengan kita. Kebaikan kita, ternyata tidak meyentuh mereka. Dalam perkataan, perbuatan, bahkan pikiran, kita sudah terlalu lama hidup berdampingan dengan mereka sehingga kebaikan dan kesopanan pun pudar. Dan yang paling parah, saling menyakiti jadi bukan masalah. “Ah, dia sudah biasa terima perlakuan itu.” “Ah, dia sudah tahu bakal jadi begini akhirnya.” “Ga usah dipuji, lah. Dia tahu koq aku seneng.” Kita terlalu sibuk untuk menjaga perasaan semua orang, sampai-sampai orang terdekat tidak masuk hitungan. Harusnya mereka paham, harusnya mereka begini dan begitu, tanpa kita berusaha untuk membuka lebih banyak mengenai diri kita ke mereka. Mungkin inilah yang menyebabkan ‘orang dalam’ sering menjadi musuh yang kuat. Yah, seperti Kapten Aizen di Bleach atau Obito Uciha di Naruto. Look around you . Kebaikan sederhana b...

Naik Kereta Api, Tut Tut Tuuuut… (4)

Image
S eri terakhir dari transportasi kesayangan warga, disini gue mau membahas soal perjalanan itu sendiri. Setelah menemukan diri kita, lalu belajar dari penumpang lain, sambil menikmati makanan dan minuman, dengerin musik, mungkin agak kedinginan sedikit, berapa banyak dari manusia di dunia ini yang sungguh menikmati perjalanan mereka? Bahkan ketika kita sadar kita berada di kereta yang salah, haruskah kita memutuskan untuk tidak menikmati “perjalanan kembali” dan menggerutu sepanjang hari? Berapa banyak artis tenar yang bunuh diri? Apakah semua orang kaya terlepas 100% dari hutang? Berapa banyak perceraian? Bahkan seorang pelawak bisa menjadi penderita depresi. Semua yang terlihat diluar sangat sedap dipandang. Kita pikir gerbong sebelah lebih seru, kita pikir tujuan lain jauh lebih menyenangkan. Well, ga semua yang kece itu oke! Gue ga setuju dengan perumpamaan hidup manusia seperti roda. Kadang di atas, kadang di bawah. Yah, mau ban baru pun, letaknya ban ya dibawah . Nikmat...

Naik Kereta Api, Tut Tut Tuuuut… (3)

Image
Dalam kereta, tentunya ga mungkin hanya kita sendiri di sebuah gerbong. Sebagai penumpang, ada juga yang namanya…. penumpang lain. Ada yang duduknya di sebelah kita, depan, atau belakang kita. Keseruan terjadi ketika sebelah kita ternyata adalah orang yang membuat kita kesal atau tidak nyaman di perjalanan. Untung-untung sih kalo dia enak dipandang. Tapi kalo ngeselin dan bau ketiak? Memang, jika berkaitan dengan relasi, perspektif itu penting. Karena manusia itu memiliki banyak sisi. Bahkan bagi dirinya sendiri, tidak hanya satu sisi yang ia tampilkan. Apalagi waktu dia menghadapi orang lain, pasti lebih banyak sisi lagi yang muncul ke permukaan. Sisi-sisi yang lebih beragam muncul juga ketika seseorang menghadapi orang-orang baru, seperti yang kerap terjadi di stasiun atau gerbong kereta. Untuk orang-orang yang memang membawa ketidaknyamanan, kita bisa belajar 3 hal dari mereka. Satu, mengampuni.  Kan bukan salah gue?  Iya tapi respon itu penting. Sekarang gini,...

Naik Kereta Api, Tut Tut Tuuuut… (2)

Image
Sambungan dari post gue yang lalu, Naik Kereta Api Tut-Tut Tuuuuut...  , masih dengan suasana kereta api. Jadi gini, ketika kita naik kereta api, biasanya ada yang periksa tiket kan? Jaman sekarang pemeriksanya udah bawa smartphone, dan tinggal cek boarding pass kita lalu menyesuaikan dengan data mereka di smartphone itu. Ga kayak dulu lagi yang kemana-mana bawa plong kertas. Nah gue tertarik dengan artikel Kenapa Semua Orang Perlu Nge-Blog  . Menurut gue, kata-kata yang paling keren dan membuat gue terinspirasi adalah di poin 1: Passion ditemukan dan dibuktikan. Sama seperti pemeriksa boarding pass , dia adalah sosok (waduh, serem bener) pemeriksa passion kita. Apa yang kita punya, bakat, talenta, hobi, tertera di tiket itu. Pembedanya tiap orang adalah tinta di tiket/ boarding pass -nya cukup jelas atau masih kabur, alias belum ditemukan passion pastinya. “Kamu di gerbong pegawai kantoran, kursi administrasi. Tapi  boarding pass-mu  di gerbong p...

Naik Kereta Api, Tut Tut Tuuuuut....

Image
Tidak banyak yang terbagi di sosial media, namun sudah enam bulan gue tinggal di Pandaan, Jawa Timur. Iya, kotanya Masjid Cheng Hoo. Gue ketrima kerja di pabrik rokok, sebuah wadah besar yang menampung sesuatu yang asin. Puji Tuhan, ini anugerah. Seindah iklannya, gue ambil kesempatan ini dan tanpa pikir panjang langsung pindah. Kalian tahu, hidup ini seperti kereta api yang ga pernah berhenti. Jaman sekarang, ‘pikir panjang’ harus membuat kalian berlari lebih kencang dari semua orang karena tertinggal gerbong yang seharusnya. Semakin bertambahnya umur, gerbong tiap orang semakin cepat lajunya. Kalau ga berlomba dengan diri sendiri, kalian akan tertinggal jauh. Tentu, gue udah membuang 2 tahun dengan  stay  di stasiun yang sama. Skripsi. Lalu mulai karir, dan membangunnya ketika kawan sebangku training adalah  fresh graduate from university . Tapi gue ga nyesel. Toh gue bayar dengan embel-embel diploma dan konsultan perilaku serta pengalaman dan sekolah karakter ...

Fight! Fight! Fight! Fight! Fight!

Image
Tidak ada yang menyukai masalah. Ataupun masalah yang timbul dari sebuah tantangan. Funny things about video game, is that every path you take in the game, always confront with enemy. Bahkan kalaupun kamu salah jalan, kamu selalu ketemu musuh. Beberapa orang berpikir bahwa musuh selalu ada ketika kita salah jalan. Beberapa orang lain beranggapan kalau musuh justru ada ketika kita berada di jalan yang benar. Tapi bagaimana jika di setiap jalan yang kita ambil, musuh (atau masalah) selalu ada? Bagaimanapun masalah atau musuh yang muncul, semuanya selalu menghasilkan satu hal yang pasti: progress. Jika kita kalah, maka progress kemunduran sementara yang didapatkan. Jika kita menang, bukan hanya poin EXP yang didapat, tapi juga keahlian yang meningkat. Bagi yang tidak familiar, poin EXP adalah yang perlu dikumpulkan untuk kita naik level di sebuah game. Semakin tinggi levelnya, semakin banyak poin yang harus dikumpulkan. EXP ini didapat ketika kita menyelesaikan misi atau membunuh mus...

Kemana Panah Cinta itu Mengarah?

Image
Photo by: @yohanessutedja Tahukah kalian, cinta bisa dibelokkan? Banyak orang yang pernah kehilangan. Pasangan, pekerjaan, hobi, peliharaan atau barang kesayangannya. Bagaimana bisa mengatasi kehilangan pacar yang sudah terlalu melekat? Bagaimana bisa mengatasi kehilangan saudara yang selalu ada? Salah satu hal yang sering diucapkan banyak orang, bahkan tersirat dalam kisah-kisah cinta klasik: “Berusahalah untuk menghilangkan cinta itu.” Mari kita jujur. Mana yang lebih mudah: menghilangkan cinta yang terlalu besar itu atau membelokkan arahnya? Satu pasangan yang sudah terlanjur terlalu dalam saling mencintai memiliki cinta yang terlalu besar bagi dirinya sendiri, sehingga dia membutuhkan orang lain untuk menjadi arah cintanya. Pemberian bunga, pelukan di sore hari, kopi hangat, ucapan selamat tidur à hanya merupakan bentuk-bentuk dari cinta yang tidak bisa dibendung itu. Mungkinkah semua itu dihilangkan ketika harus berpisah? Cinta adalah hal yang tidak berasal ...

Human's Greatest Power (No Spoiler Alert!)

Image
Akhirnya, gue nonton X-Men: Days of Future Past juga, meskipun sendiri dan bukan 3D. Ga apa-apa lah. Yang penting nonton. Gue uda ikutin ni mutan dari tahun 2000, percuma banget kalo ga nonton yang ini. Tenang aja, gue ga akan ceritain apapun dari film ini. Gue cuma mau ambil satu adegan dari film ini, yang emang udah beredar foto cuplikannya di internet, yaitu momen ketika Charles Xavier tua (Patrick Stewart) ketemu dengan Charles Xavier muda (James McAvoy). Salah satu kalimat terkeren sepanjang film ini adalah waktu Professor X ngomong ke Young Charles tentang kekuatan terbesar manusia, yaitu Harapan. Gue lupa persis kata-katanya (lah...) hahaha.... Intinya, harapan adalah kekuatan terbesar manusia. Dan Young Charles ga boleh takut untuk berharap. Gue jadi keinget sama momen ketika tanggal sidang skripsi gue keluar. Gue sampe ga bisa ngomong apa-apa. Karena sungguh-sungguh ga punya dugaan hari itu akan datang. Seburuk apapun keadaan, kita ga boleh berhenti berharap. Terlalu ...

Kucing kesetanan

Image
Minggu lalu, gw dan Thata ( @AkuBukanTha2 ) memutuskan untuk buat tato di sebuah mall di Surabaya. Karena gw sendiri buat keputusan mendadak, akhirnya gw bikin tato paling lucu yang ada di buku. Benernya gw ga gitu suka binatang yang gw pilih ini, cuma ya kalo jadi tato ternyata lucu. Ini tato kita berdua: Yang satu gambar kucing bete. Yang satu gambar anak setan. Kalo digabung jadinya kucing kesetanan. Ini cuma temporari, sih. Cuma seperti kebanyakan orang, mikir juga enak kali ya kalo punya tato permanen. Ga usah tato-tato lagi, bisa berwarna pula. Toh gw juga suka pake perhiasan, dan tato bisa jadi perhiasan 'kekal'. Gw emang cukup impulsif, tapi gw jarang menyesali tindakan yang gw ambil. Yah, liat aja koleksi potongan rambut gw. Banyak diantaranya kesalahan, tapi gw ga nyesel. Malah jadi tambahan model baru yang gw 'icip'.  Nah, pertanyaan selanjutnya bisa ditebak, kan? Bukan, bukan gambar apa yang mau gw jadiin tato. Tapi pertanyaan awal: sebenarnya ...

F*ck what peple say!

Image
Kemarin gw liat iklan bagus di TV. Iklan ini sebenarnya untuk promosi produk kecantikan "O". Bukannya gw pake produk itu, tapi pesannya bagus. Gw coba cari videonya tapi belom ketemu. Jadi gw akan deskripsikan dengan kata-kata: Seorang guru wanita muda sedang memilih sepatu. Dia ingin mengenakan stiletto merah. Tapi bayangan dirinya berbisik: "pakai stiletto untuk ngajar? Tar diomongin lho" Seorang wanita calon karyawan sedang mengenakan lipstik oranye sambil bercermin di dalam lift. Tapi bayangannya di cermin malah cemberut dan komentar: "Apa ga berlebihan untuk hari pertama?" Seorang wanita sedang merapikan jilbab yang berwarna nila dan banyak pernak-perniknya (sori gw ga ngerti gimana cara deskripsinya). Bayangannya di cermin, mengenakan jilbab berwarna abu gelap dan sangat sederhana bertanya: "Apa nggak berlebihan?" Seorang atlit wanita di ruang ganti sedang mengenakan anting panjang sebelum mulai pertandingan. Bayangannya be...

I am Iron Man (pt. 2)

Image
Well, sesuai dengan judulnya, gue emang nonton Iron Man 3 sebanyak 2 kali. Sekali lagi, ini bukan pamer. Sebagaimana gue sangat mencintai tokoh Tony Stark, jadi sudah selayaknya nonton film dia tidak hanya sekali (apa sih). Dan lagi-lagi, gue mendapatkan sesuatu yang bisa dipelajari dari bagaimana Tony memandang dirinya. Sebagai orang yang (terlalu) mencintai dirinya sendiri, mungkin kita ngga pernah menyadari bahwa banyak hal yang membuat Tony bisa ragu akan dirinya. Muncul hal-hal yang membuatnya seolah tidak mengenal dirinya dan membuatnya harus percaya bahwa dia bisa mengalami serangan panik. (spoiler alert!) Dan banyak hal yang mencoba "mencuri" identitas Tony sebagai Iron Man. Bukan, bukan musuhnya, bukan juga stress yang dia alami, tapi dirinya sendirilah yang membuatnya tidak percaya diri. Selama ini, Tony sangat bergantung pada elektromagnet di dadanya. Penjelasan dari film bilang bahwa benda di dadanya itu mencegah pecahan-pecahan besi untuk menembus jant...

I am Iron Man

Image
Hola.. hola.. hola... Long time no see. How do yo do? Terlalu banyak yang mau gue share disini.  Mulai dari masa-masa praktikum di Jakarta, lalu pengalaman-pengalaman menarik waktu trakhir pulang ke Banyuwangi, dan... yah banyak lah. Tapi ada satu topik yang sepertinya memang ga bisa ditunda lagi untuk dibagikan. Topik yang ketika mau tidur sampe bangun tidur terus aja kepikiran untuk ditulis. Dan topik ini berdasarkan pengalaman gue kemarin, bersama dua temen gue. Kemarin gue nonton Iron Man 3. Oke, ini ngga bermaksud sama sekali untuk pamer. Meski mungkin diantara kalian uda keburu nutup blog ini and ngambek karena kalian jomblo dan belum ada yang ngajak nonton. Ehm, iya sih, itu nyesek banget. Tapi gue cuma mau bagi hal menarik yang gue dapet dari kisah Tony Stark di Iron Man 3. Oke, secara gue penggemar Iron Man dari semua Avengers, jadi udah menjadi euphoria sendiri waktu pantat gue menyentuh kursi di bioskop 3D yang beberapa menit lagi akan memanjakan semua ekspekt...

Sang Penonton

Pertunjukan yang baik selalu memiliki penonton yang setia. Entah itu sedikit atau sebaliknya, mereka selalu rajin mengikuti perkembangan idola sejati dalam tiap pertunjukan. Tiket termahal pun terjual habis, dan kursi terdepan tidak pernah kosong. Mereka pun akan rela mematikan semua kontak sosial dengan dunia luar saat menyaksikan idola mereka beraksi di atas panggung. Idola yang sering mereka elukan itu tak sengaja menjadi sebuah model dalam kehidupan Sang Penonton. Tidak perlu meminta melompat, saat konser musik berlangsung penonton bisa saja melompat bukan karena musik namun melihat idola yang juga melompat. Mereka mengikuti apa yang idolanya lakukan. Bukan hanya itu, gaya berpakaian, bicara, dan apapun yang berkaitan dengan idolanya akan menjadi hal yang patut dicoba untuk Sang Penonton. Mungkin karena hal ini anak-anak perlu didampingi saat menonton televisi. Ada penonton yang baik dan buruk. Seperti kebanyakan manusia di dunia ini, karena idola manapun juga akan mengharapkan pen...

Sebuah Panggung

Tak terbatas....tak terkira. Seneng banget memiliki pembaca-pembaca meski tidak banyak. Setidaknya, kita memiliki seseorang yang tahu setiap kejadian dan pengalaman di kehidupan, yang di share dalam blog ini. Melanjutkan posting gw yang judulnya "Penulis di Sebuah Panggung", inilah "Sebuah Panggung." Oh, yha, btw, gw uda selesai pelayanan tadi pagi. Inget, selesai pelayanan tadi pagi, bukannya selesai pelayanan. Itu sih bakal terus berlanjut sampai kapanpun, cuma untuk ibadah I sudah selesai. Semua... jika bisa dikatakan dengan bahasa biasa, berjalan dengan lancar. Bahkan, sangat amat lancar. Ngga sesuai dugaan, karena emg gw ga punya dugaan. Tapi jauh lebih dari yang diharapkan. Suara gw sudah hampir habis, tapi tetep bisa "nendang" sampe lagu terakhir. Puji Tuhan, respon jemaat keliatan banget and gw bisa jadi bagian dari bertobatnya jemaat yang baru pertama hadir sampe mau dibabtis. Tuhan hebat! Waktu doa sebelum ibadah, gw hampir ga bisa ngomong. Gw ...

Penulis di Sebuah Panggung

Tanpa sebab yang jelas, bidang tulis menulis ini sangat menarik di mata gw. Semua yang berkaitan dengan menulis, baik itu dengan bolpen atau keyboard . Entah itu cerita, puisi, buku harian, berita, SEMUA itu terasa sangat menarik. Tapi dasar seniman, sebuah peraturan dan tanggung jawab moral selalu menjadi batasan yang tidak enak. Apalagi kalau sudah memutuskan untuk keluar dari zona nyaman dan melemparkan tulisan-tulisan kita ke mata masyarakat luas. Menjadi penulis yang lebih dikenal di dunia luar, dan bukan hanya di dalam kamar atau kerabat dekat. Gw lebih senang menyebutnya Penulis di Sebuah Panggung. Semua yang di atas panggung selalu memiliki penonton. Meski itu hanya sebuah pemasaran produk atau presentasi di kelas, semua memiliki puluhan bahkan ribuan pasang mata yang memperhatikan. Dengan gitu siapapun yang berada di puncak perhatian bakal lebih menjaga perilaku atau sekadar mengikuti prosedur untuk kelancaran apapun yang disajikan. Ga terkecuali penulis. Memang gw belum perna...

another lies

seharusnya, kejujuran itu menjadi mudah saat kita berani. tapi, kenapa berani itu ga bisa muncul begitu aja. ada orang yang takut untuk bicara. ada orang lain yang takut untuk bertindak. bahkan ga sedikit yang takut untuk berpikir. kalau sudah seperti itu, apa mereka akan takut untuk meneruskan hidup? aku cukup yakin dengan keberadaanku sekarang. aku cukup senang dan merasa nyaman. di situasi seperti ini, biasanya orang takut untuk bertindak. atau mungkin mereka akan takut untuk berpikir dulu, karena takut dirinya akan melakukan yang mereka pikirkan. faktanya, seseorang bisa melakukan seperti yang mereka pikirkan. bahkan disaat sebenanarnya mereka sendiri ga setuju dengan perbuatan itu. liat aja yang bunuuh diri. kebohongan ini bukan hanya saat seorang anak kecil berbohong soal nilai ulangannya. bukan sekedar saat seorang bocah menyembunyikan sprei yang kena ompol. kebohongan ini terus berlanjut. terus berkembang dan membentuk organisasinya sendiri. dimulai dari mencari alasan, hingga ...

Lies

Kenapa orang harus bertindak sesuai dengan peraturan? Kenapa seseorang mematuhi aturan-aturan yang tertulis dan lisan? Untuk menjadi warga yang baik, atau sekedar menjauhi hukuman? Atau yang ketiga, supaya menyenangkan orang lain? Banyak orang melakukan sesuatu, tanpa sadar hanya untuk menyenangkan orang lain. Wajar banget emang kalo kita ingin nyenangin orang yang kita sayang. Tapi lebih dari itu, apa kita senang melakukannya? Gw ga ngerti sama orang-orang yang kayak gitu. Bilangnya, ini demi kebaikan orang yang disayang. Tapi untuk dirinya sendiri, berkorban sih berkorban. Tapi sampe kapan mau jadi keset terus? Bahkan psikologi membantah orang-orang yang seperti ini bertindak benar. Mereka tidak asertif. Berbanding terbalik sama ajaran PPKN ato Kewarganegaraan gw waktu sekolah. Disitu diajarin, bahwa kita harus merelakan kepentingan sendiri bagi kepentingan bersama. Itu emang bener banget. Apa jadinya bumi kalo semua egois? Tapi untuk menjadi asertif, bukan berarti harus membohongi d...

lagi-lagi...tulisan sebagai terapi

Aku ga pernah paham konsep psikologi. Yha, emg apaan sie intinya? Ga ada, kan? Psikologi itu seni, kata sepupu gw… selalu berbeda di setiap kondisi. Bahkan teorinya bisa beda bgt di kondisi yang berbeda. Kita mempelajari sesuatu yang selalu bergerak, berubah dan berkembang. Kalo ga terus belajar, ga akan bisa memahaminya. Itu pikir gw. Sampe satu pagi, gw terlambat bangun untuk sebuah kuliah terpenting semester ini. gw shock bukan main. Sebenarnya bisa ajha sie gw buru2 brkt dgn ga mandi, ato tetep mandi tp ngebut di jalan. Tp yang buat gw kaget bukan terlambatnya. Melainkan kenapa gw bisa melewatkan yang satu ini? Ada apa dengan Tasya yang selalu siap sedia untuk semua yang dia kerjakan? Ada apa dengan Tasya yang dikagumi karna time management -nya? Semua berawal dari tahun lalu. Bukan. Bertahun-tahun lalu. “Seorang anak harus menjaga nama baik orangtuanya.” Masa lalu membentuk kita, kan? Hmph… kali ini, yang terbentuk jauh lebih menyeramkan dari dugaan gw. Gw jadi “pemuja” orang...