Naik Kereta Api, Tut Tut Tuuuut… (4)

Seri terakhir dari transportasi kesayangan warga, disini gue mau membahas soal perjalanan itu sendiri. Setelah menemukan diri kita, lalu belajar dari penumpang lain, sambil menikmati makanan dan minuman, dengerin musik, mungkin agak kedinginan sedikit, berapa banyak dari manusia di dunia ini yang sungguh menikmati perjalanan mereka? Bahkan ketika kita sadar kita berada di kereta yang salah, haruskah kita memutuskan untuk tidak menikmati “perjalanan kembali” dan menggerutu sepanjang hari?

Berapa banyak artis tenar yang bunuh diri? Apakah semua orang kaya terlepas 100% dari hutang? Berapa banyak perceraian? Bahkan seorang pelawak bisa menjadi penderita depresi. Semua yang terlihat diluar sangat sedap dipandang. Kita pikir gerbong sebelah lebih seru, kita pikir tujuan lain jauh lebih menyenangkan. Well, ga semua yang kece itu oke!

Gue ga setuju dengan perumpamaan hidup manusia seperti roda. Kadang di atas, kadang di bawah. Yah, mau ban baru pun, letaknya ban ya dibawah. Nikmati hidup ini. Nikmati apa yang sedang dijalani. Benar atau salah, semua tergantung kesadaran dan aksi kita, kan. Karena semua kesadaran membutuhkan aksi yang mengikuti.

Berapa banyak dari kalian yang sedang membaca ini sekarang, menikmati hidup kalian, bahkan merasakan pesta yang Tuhan adakan? Ga cuman menikmati hidup kalian, tapi apakah kalian merasa hidup kalian seperti pesta?

Yah, pesta sih, tapi mungkin gue lagi duduk sendirian di pojok sambil liat orang lain nari-nari.

Meskipun masih dalam masa pemulihan pasca operasi pengangkatan salah satu kelenjar tiroid, gue tetap bisa asik sendiri nyanyi-nyanyi seperti orang normal. Orang lain ga tahu sebenarnya gue lagi kesakitan dan beberapa kali harus batuk-batuk. Tapi gue memutuskan untuk berpesta, meskipun secara fisik gue kurang mampu.

Ayolah, sekarang siapa yang bakal berpesta di hidup kita kalo bukan kita sendiri? Ga ada yang namanya security hati. Kalau kalian ga bisa nikmati hidup kalian dan memutuskan untuk selalu bad mood, jangan harap tiba-tiba keajaiban terjadi. 

Salah satu pintu yang manjur banget untuk “mendekor” hidup kalian sedikit demi sedikit adalah bersyukur.

Terima kasih, Tuhan, gue masih punya jas ujan yang ga bolong, jadi ga basah bajunya waktu kehujanan.

Terima kasih, Tuhan, gue masih punya sendal jepit. Banyak orang nyeker karena ga bisa beli alas kaki.

Terima kasih, Tuhan, masih bisa beli Ahqua, banyak orang ga bisa minum dengan air bersih kayak gini.

☺☺

Mandi gih! Tuhan lagi adain pesta, lho!


Comments

Popular posts from this blog

Apa artinya "Kaulah Segalanya"?

Gelas pecah

Mending TERSESAT daripada Bertanya?