Cacing yang Tidak Bisa Diam

(Sebuah postingan yang sudah terlalu lama disimpan, dan baru saja ditemukan kembali...)


Anak anda cacingan? Eh..

“Anak anda tidak bisa diam? Mungkin gaya belajarnya kinestetik!” Kalimat tersebut sempat terbaca waktu gue melihat-lihat postingan Facebook. Sepintas langsung muncul di otak: “wah gue nih!” Bukan karena makna dibalik kinestetik itu sih, tapi karena gambar yang digunakan adalah dua anak kecil yang sedang memanjat pagar. Yah, dulu sih emang gue suka coba-coba panjat pagar, cuma karena seru aja sih, bukan karena dikunciin atau apa. #pemahamanpribadi

Tapi kemudian keahlian gue pun terjadi. Yap, perenungan tingkat semesta terjadi.

Gue tahu gue emang orang yang ga bisa diam. Gue sering mencoba hal-hal baru dan bahkan belajar banyak hal. Mulai dari musik, nari, nyanyi, bahkan sempat nulis beberapa lagu. Belum lagi puisi, blogging, dan kadang mendesain kartu ucapan kecil-kecilan untuk keluarga dan sahabat. Waktu kuliah, gue memberanikan coba bidang jurnalistik, disamping mencoba segala macam potongan rambut. Serius deh, kalo ketemu stylist gue, dia slalu tanya: “kali ini potong gimana lagi ya? Kan kamu udah coba semua.”

Untungnya, soal cinta gue ga begitu. Entah kenapa, soal relasi gue malah berkebalikan dari yang disebut kinestetik. Kalo udah satu itu, ya udah satu aja. Ngapain punya banyak temen, apalagi pacar kalo punya satu yang awet aja udah aman? #ceweksetia #gajugasih #pejuangsetia #okelah

Nah yang ga bagus dari tipe yang seperti ini adalah tidak bisa diam. Banyak tau, banyak pengalaman, banyak relasi, banyak situasi yang pernah dialami, banyak tantangan yang sudah diselesaikan, banyak belajar. Gue adalah orang yang rutin bergerak. Gue butuh rutinitas, tapi gue juga butuh perubahan. Gue bisa menyesuaikan diri dengan mudah ketika berada di situasi baru dan ketemu orang baru. Gue bisa menciptakan pola sendiri untuk memahami situasi dan orang. Bahkan gue sering ‘membuang’ diri ke situasi yang gue sama sekali ga tahu hanya untuk memuaskan perangai tidak bisa diam. Emang sih banyak bisa. Emang sih, tapi...

... akhirnya, untuk jadi tajam justru butuh waktu lebih. Gue sendiri butuh waktu lebih untuk lulus bukan karena nganggur, tapi karena gue ambil diploma di bidang anak berkebutuhan khusus dan kerja di kantor universitas sendiri. So, gue sering menghilang dari kapal induk dan berenang-renang ke tetangga hanya untuk memuaskan dahaga penasaran gue. Alhasil, gue butuh waktu ekstra untuk mengembalikan diri gue ke where I belong, atau where I suppose to be.

Bahkan, di beberapa episode utama kehidupan, gue butuh selingan untuk tahu where I belong. Serius deh, manusia tuh lucu, memperjuangkan kemerdekaan, tapi begitu merdeka, malah bingung mau ngapain. Makanya banyak tuh pengangguran bukan hanya karena lapangan kerja yang terbatas, tapi karena mereka belum ketemu mau ngapain. Nah gue sendiri juga termasuk tipe orang yang begitu, sodara-sodara.

Meskipun banyak keputusan impulsif yang telah diambil, gue ga menyesal. Semua itu menjadikan gue seseorang yang unik. Gue banyak hal dan gue satu. Karena itu apapun model kalian, jangan pernah takut untuk lompat keluar dari zona nyaman. Bahkan ketika kalian udah tahu siapa dan mau apa kalian di hidup ini, jangan pernah merasa puas di satu titik. Pertajam hal itu, inovasi, jadiin hal itu identik dengan siapa kalian.

Selain itu, untuk memilih sebenarnya mau apa, kita bisa manfaatkan orang sekitar yang emang kenal betul siapa kita. Dengerin dulu saran mereka, jangan bantah, lalu renungkan. Tapi jangan sampai goyah sama pilihan yang sudah diambil. Karena meskipun saran mereka sepertinya sempurna, keputusan tetap ditangan kalian. Karena ini hidup kalian, bukan punya mereka. Believe in yourself, guys. Always!


So, ready to jump?

**Maunya dikasih gambar cacing. tapi udah keburu geli, akhirnya ga jadi.

Comments

Popular posts from this blog

Apa artinya "Kaulah Segalanya"?

Gelas pecah

Mending TERSESAT daripada Bertanya?