Penulis di Sebuah Panggung

Tanpa sebab yang jelas, bidang tulis menulis ini sangat menarik di mata gw. Semua yang berkaitan dengan menulis, baik itu dengan bolpen atau keyboard. Entah itu cerita, puisi, buku harian, berita, SEMUA itu terasa sangat menarik. Tapi dasar seniman, sebuah peraturan dan tanggung jawab moral selalu menjadi batasan yang tidak enak. Apalagi kalau sudah memutuskan untuk keluar dari zona nyaman dan melemparkan tulisan-tulisan kita ke mata masyarakat luas. Menjadi penulis yang lebih dikenal di dunia luar, dan bukan hanya di dalam kamar atau kerabat dekat. Gw lebih senang menyebutnya Penulis di Sebuah Panggung.

Semua yang di atas panggung selalu memiliki penonton. Meski itu hanya sebuah pemasaran produk atau presentasi di kelas, semua memiliki puluhan bahkan ribuan pasang mata yang memperhatikan. Dengan gitu siapapun yang berada di puncak perhatian bakal lebih menjaga perilaku atau sekadar mengikuti prosedur untuk kelancaran apapun yang disajikan. Ga terkecuali penulis.

Memang gw belum pernah tahu ada pertunjukan yang menampilkan seseorang menulis sesuatu di sebuah panggung dan begitu terus sampai acara berakhir. Tapi lewat buku, majalah, koran, bahkan blog ataupun status di Twitter dan Facebook menjadikan semua insan di dunia ini sebagai Penulis di Sebuah Panggung. Mereka menyampaikan apapun yang hinggap dan bersarang di otak itu. Perasaan, pengalaman, fasilitas, properti, informasi hingga singgungan-singgungan berbau politik dan memicu kontroversi juga ada di media ini. Ga sedikit yang dilaporka sebagai spam bahkan menuju meja hijau. Hanya karena kebebasan berbicara dan mengutarakan pendapat yang bersentuhan dengan tanggung jawab moral, seseorang bisa sangat menderita.

Ada orang-orang yang jadi lebih sopan dan berhati-hati saat ia harus naik panggung. Ada juga yang menjadikan area ini sebagai ajang pembebasan jiwanya. Penulis di Sebuah Panggung memiliki banyak kepribadian. Mereka bsa kejam pada saat ini, dan sangat memperhatikan sesama pada menit berikutnya. Berterima kasih pada jejaring sosial yang sudah sering dikenal ini, kita bisa liat waktu posting-nya untuk membuktikan hal ini.

Lalu, apa yang bisa kita pelajari dari ini semua? Jawabannya... gw ga tau. Gw termasuk orang yang ga peduli sesama. Tapi gw jarang mengutarakan secara gamblang di media. Gw lebih suka interaksi sosial secara langsung. Jadi, mungkin media, atau panggung akan menjadi ajang pameran karya seni bagi gw. Seperti contohnya blog yang membuktikn gw bisa keluar dari zona nyaman dengan terbuka bagi siapapun untuk melihat lebih jelas gaya penulisan gw. Yang penting, saat harus naik panggung, jadilah diri sendiri. Mungkin itu artinya adalah bertindak sebebas-bebasnya. Tapi kalo ga gitu, kita mau jadi siapa lagi? Ga ada yang lebih menyenangkan dari itu. Meski mungkin kamu minder atau sombong untuk menutupi keminderanmu, para penonton akan melihat salah satu insan yang sanggup menerima dirinya apa adanya.


Comments

  1. Ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu dibuat sebuah kota tempat pelarian bagi mereka yang terhukum. Kelihatannya sama dengan kehidupan kita sekarang ini kita butuh kota perlindungan, walaupun bukan karena terhukum. tapi yang lebih dahsyat lagi adalah menghadapi segala perkara walaupun sadar kekuatan sangatlah terbatas. Tapi Dia berkata : Äku sekali2 tiadk pernah meninggalkanmu" Thanks God

    ReplyDelete

Post a Comment

jangan cuma dibaca...gmn menurutmu???

Popular posts from this blog

Apa artinya "Kaulah Segalanya"?

Gelas pecah

Mending TERSESAT daripada Bertanya?