Ga nyangka, postingan gw yang sebelumnya, (Kembali) adalah postingan ke-100. (Yeaaaaa). Bangga juga, karena postingan ke-100 ini dirayakan dengan kembalinya gw ke pelukan Tuhan. Ya ampun, masi ga kebayang sampe sekarang, kasih Tuhan untuk hidup gw. Bahkan untuk keadaan terburuk pun, itu masih aja yang terbaik untuk gw. Karena ga pernah sekalipun gw ga dapet jalan keluar. Kayak postingan kemarin contohnya, gw mulai "inget" Tuhan setelah dengerin lagu2 dari album barunya Linkin Park. Ya, memang, meskipun masih aja ada beberapa kali f word disebutkan, gw bisa tiba-tiba keinget ama Hillsong waktu denger salah satu lagu LP ini. Gw pun inget, kalo gw punya DVD konsernya Hillsong terbaru yang Faith, Hope, Love. Dan waktu gw nonton, gw lagi-lagi dibukakakn tentang satu hal. Bedanya dengan postingan "Kembali", gw diingatkan sama satu hal lagi tentang Tuhan. Gw emang sering banget cari tahu apa arti dari lirik-lirik lagu yang gw nyanyiin. Kayak waktu itu gw dibukakan mengena...
Aku tidak pernah menyalahkanmu. Aku selalu menerimamu. Ingat hal itu baik-baik. Aku selalu membuka tangan. Aku selalu tersenyum. Aku selalu bahagia di depanmu. Aku tidak pernah menyia-nyiakan waktu bersamamu. Aku selalu menantikan saatnya tiba untuk bertemu kembali. Aku selalu menunggumu. Aku selalu setia. Namun, kapankah gelas yang kuisi ini penuh? Kapankah aku bisa menikmati minumannya? Jika aku dahaga, bisakah aku meminumnya, hasil jerih payahku? Jika aku haus, bisakah minuman ini memuaskanku? Kapankah, ada tangan yang terbuka untukku? Kapankah, ada senyum yang diciptakan hanya untukku, meski hanya dua detik? Kapankah ada tawa bahagia yang diberikan saat bersamaku? Kapankah ada orang yang menantikanku di tempat aku pulang? andaikata, gelas itu pecah...
Jika slogan itu kita gunakan untuk perjalanan di sebuah liburan, pasti akan menyenangkan aplikasinya. Jika diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari, dimana kalian diberi tugas mengantar surat perusahaan kemudian lebih baik tersesat, maka sekalian saja ucapkan selamat tinggal untuk pekerjaan kalian. Namun bagaimana aplikasinya pada pertemanan? Salah satu hal unik yang saya pelajari akhir-akhir ini adalah musuh utama sebuah pertemanan. Bukan, bukan perselisihan. Bukan pertengkaran. Bukan juga bohong. Tapi prasangka . Yup, prasangka adalah musuh utama seluruh jenis relasi yang kita miliki. Prasangka seorang ibu bisa membuatnya tidak kembali ke pasar, karena ia berpikir penjual di pasar tidak bisa melakukan bisnis dengan jujur. Prasangka seorang anak bisa membuatnya lari dari rumah, karena ia berpikir orang tuanya lebih menyayangi adik barunya ketimbang dirinya. Prasangka seorang teman bisa menghancurkan kepercayaan yang telah dibangun. "Ah, dia pasti membohongiku....
Comments
Post a Comment
jangan cuma dibaca...gmn menurutmu???